13
FEB
2013

Mendidik Generasi Native teknologi

Teknologi sebagaimana kita ketahui merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Meningkatkan kualitas artinya mengurangi keterbatasan kemampuan manusia. Benda berat yang seharusnya tidak dapat diangkat dapat diangkat, jarak jauh yang seharusnya tidak dapat ditempuh dapat ditempuh, suara yang seharusnya tidak dapat terdengar oleh orang dapat terdengar dan lain sebagainya.

Lahirnya teknologi api pada manusia primitif merupakan fenomena terpenting dimana teknologi itu meningkatkatkan kualitas pangan manusia, makanan yang dimasak menjadi lebih enak, lebih harum dan lebih sehat. Namun lahirnya sebuah teknologi tersebut bukan berarti akan berhenti sampai disitu, disatu sisi teknologi api memiliki manfaat sedemikian rupa, tapi akan ada sisi negatif yang muncul seperti asap yang mengganggu kesehatan sampai bahaya kebakaran. Lalu bagaimana solusi orang dengan resiko tersebut? Sebagian orang akan menganggap api berbahaya dan “jangan menggunakan api”.

Tentu saja solusi tersebut tidak sepenuhnya salah, namun ketika kita mengambil solusi tersebut maka kita akan kembali pada kondisi sebelum api ditemukan. Manusia primitif tadi akan kembali memakan makanan tanpa dimasak dan menghabiskan malam dengan kegelapan dan kedinginan. Pada kondisi ini bukankah lebih baik jika mengambil kesimpulan tentang bagaimana kita menggunakan api, dengan menghindari resiko yang mungkin muncul? Dengan pola pikir demikian, maka akan muncul teknologi baru sebagai pemecahan masalahnya. Seperti sistem cerobong asap, sistem tungku, sampai masker asap. Apakah kemudian berahir kembali ketika masalah tersebut teratasi? Tentu saja tidak. Semua teknologi itu tetap memiliki efek samping yang lain. Dan ketika manusia berusaha menyelesaikan efek samping tersebut, akan lahir teknologi berikutnya, dan seterusnya. Ini adalah siklus dimana sebuah teknologi akan menghasilkan teknologi berikutnya. Kondisi ini disebut dialektika teknologi.

Teknologi memiliki peranan penting dalam setiap lini kehidupan manusia. Ketika bangsa eropa ahirnya mengadopsi sistem angka dan perhitungan bangsa arab untuk menggantikan angka romawi adalah fenomena penting dalam perkembangan teknologi dunia. Perkembangan dunia matematika menjadi pesat, dengan perhitungan yang baik masalah-masalah yang selama ini tidak terpecahkan dapat dipecahkan. Sehingga pada abad 15 bangsa eropa mampu keluar dari kegelapan intelektual yang dikenal dengan sebutan renaissance atau kelahiran kembali.

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan bangsa eropa, pada 1769 Jamess Watt menemukan mesin uap yang menandakan dimulainya revolusi industri dunia. Keberadaan mesin untuk menggantikan tenaga manusia untuk melakukan pekerjaan berat dan membosankan memicu muculnya teknologi lain yang mengatasi keterbatasan kemampuan manusia. Selanjutnya ketika kabel laut trans altantik digelar untuk menghubungkan eropa dan amerika pada 1858 membuka harapan akan komunikasi tanpa batas. Sehingga kekhawatiran akan terbatasnya informasi pada dunia luar mendapatkan titik terang.

“Pihak yang menguasai informasi akan memenangkan perang” merupakan kata-kata pepatah kuno yang sudah tidak asing bagi kita. Lalu apa informasi itu sendiri? Informasi adalah data, cara atau instruksi yang memiliki makna. Sedangkan pengetahuan adalah informasi yang dikombinasikan dengan pemahaman. Jadi informasi itu sendiri bisa dikatakan sebagai pengetahuan, bergantung dari tingkat pemahaman kita pada informasi tersebut. Ketika kita dapat mengatasi batasan pada informasi yang kita peroleh, artinya kita juga dapat mendapat pengetahuan yang tidak terbatas. Sehingga pada tahun 1985, melalui penggunaan nama domain pertama internet, maka dunia menjadi cerdas, karena segala bentuk informasi bisa disebarluaskan melalui internet.

Internet merupakan fenomena sumber informasi yang saling terhubung (The things that think will link), namun di awal perkembangannya terjadi kebimbangan masyakat akan penggunaan internet, isu akan pornografi, penyalahan hak cipta, pencurian data, penipuan, hasutan dan ucapan kebencian (hate speech) sulit dihindari. Isu tersebut selain membawa kebimbangan pada masyarakat terhadap penggunaan internet, juga mempersempit motivasi penggunaan internet oleh masyarakat awam. Mereka ahirnya menganggap internet sebagai sarana untuk memperoleh kepuasan birahi, motivasi untuk mencuri data, pembajakan hak cipta, dan sarana untuk melontarkan hasutan publik. Lalu apakah kita masih akan menggunakan internet, atau kembali pada keadaan sebelum internet ada?

Untuk menekan segala bentuk kejahatan di internet, ahirnya pemerintah mengeluarkan undang-undang tentang etika ber-internet. Dan mengeluarkan hukum yang jelas terhadap kejahatan yang terjadi di dalamnya. Namun, bagaimana dengan motivasi orang awam akan penggunaan internet?

Meledaknya fenomena social media pada 2007 lalu ahirnya sedikit melepas belenggu keterbatasan penggunaan internet oleh masyarakat awam. Ada motivasi baru untuk menggunakan internet, yaitu mengakses social media. Sosial media agaknya menjadi jalan keluar untuk meningkatkan jumlah pengguna internet di indonesia. Pengguna internet di Indonesia bertambah pesat, harga internet pun semakin murah. Internet yang semakin diterima oleh masyarakat awam memicu munculnya teknologi yang mempermudah mengakses internet. Kemudian era smartphone-pun dimulai. Dan lagi-lagi kemudahan mengakses social media dimanapun dan kapanpun menjadi alasan utama meningkatnya perkembangan smartphone di Indonesia.

Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi, segala macam inovasi diciptakan untuk meningkatkan kualitas dalam segala bidang, baik dunia bisnis, pemerintahan maupun pendidikan. Dalam dunia pendidikan, ada e-learning yang mengaplikasan proses belajar mengajar menggunakan perangkat komputer dan multimedia, e-book yang menggantikan buku dalam bentuk digital, digital library sebagai bentuk perpustakaan digital, distance learning atau proses belajar mengajar jarak jauh menggunakan internet dengan video conference, sampai dengan sistem informasi akademik untuk menunjang proses belajar mengajar secara terpadu dan real time sehingga mengoptimalkan segala elemen dalam pendidikan dan menghilangkan batasan akan informasi yang seharusnya diterima.

Saat ini pemanfaatan inovasi inovasi tersebut secara efektif hanya dilakukan pada jenjang pendidikan menengah sampai perguruan tinggi. Dimana usia-usia tersebut adalah usia dimana mereka sudah mengenal internet sebelumnya, setidaknya untuk mengakses social media. Social media memang memiliki peran penting dalam meningkatkan volume pengguna internet di indonesia dan mengantarkannya kepada teknologi lain yang berhubungan dengan internet, namun di sisi lain juga membatasi motivasi penggunaan internet pada orang awam. Hal ini akan menjadikan pemikiran sempit bahwa internet adalah sosial media, apa gunanya dapat mengakses internet tanpa social media.

Karena adanya kesenjangan usia yang dihadapi ketika internet sudah menjadi konsumsi publik dan fenomena social media sebagai motivasi penggunaan internet. Sebagian besar pengguna internet berada pada usia 16-35 tahun. Usia dimana mereka memiliki motivasi tinggi menggunakan social media.

Berdasarkan usia, kita bisa membagi object teknologi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah usia dimana mereka tumbuh sebelum lahirnya teknologi, bagian kedua adalah mereka yang tumbuh bersamaan dengan lahirnya teknologi. Bagian terahir tersebut akan saya sebut dengan generasi native teknologi. Dimana mereka yang lahir ketika teknologi sudah diterima masyarakat, dan berada pada puncak penggunaannya.

Anak-anak pada jenjang pendidikan sekolah dasar dan dibawahnya, saat ini merupakan generasi native teknologi. Sedang teknologi yang kita bicarakan adalah teknologi informasi dan internet. Karena motivasi utama pengguna internet saat ini adalah social media, apakah mereka juga akan kita kenalkan social media untuk memperkenalkan internet ?

Social media bukanlah solusi yang tepat untuk mengenalkan internet pada anak-anak usia dini. Karena motivasi yang tertuju pada social media ahirnya menyudutkan penggunaan internet melulu pada social media dan cenderung menggunakan teknologi lain sebagai sampingan. Pada usia mereka pengetahuan utama yang diperoleh siswa tersebut adalah dari sekolah, maka inovasi-inovasi pemanfaatan teknologi informasi pada dunia pendidikan yang selama ini hanya diterapkan pada perguruan tinggi dan sedikit sekolah menengah, seharusnya dimulai dari tingkat dasar. Ketika anak-anak menyadari fungsi utama teknologi informasi tersebut adalah untuk pendidikan dan ilmu pengetahuan. Maka fungsi lain dari internet seperti social media dan lain-lain akan menjadi sampingan.

Tentu saja hal tersebut menambah pekerjaan pada pihak penyelenggara pendidikan. Selain tenaga pengajar yang harus melek teknologi, mereka juga dituntut untuk memenuhi konten pengetahuan di internet dengan hal hal yang positif dan dibutuhkan siswa. Mengaplikasikan inovasi-inovasi teknologi tersebut dalam dunia pendidikan sejak dasar selain memperkenalkan penggunaan teknologi secara tepat kepada anak-anak juga merupakan media yang tepat untuk memperkenalkan teknologi secara tepat kepada orang tua. Karena semakin dini pendidikan pada anak-anak, kepedulian orang tua terhadap perkembangannya juga semakin tinggi.\r\n\r\nPenggunaan inovasi-inovasi pendidikan menggunaan teknologi di sekolah sejak dini juga akan membantu perkembangan terkonologi itu sendiri. Karena tidak ada teknologi tanpa efek samping, dan tidak ada teknologi baru jika sebelumnya tidak ada pemecahan akan masalah yang muncul sebagai efek samping suatu teknologi.

admin

Leave a Reply

*

captcha *